Glosarium Manajemen Inventaris: 50 Istilah yang Wajib Diketahui Setiap Pengusaha
Mengelola inventaris berarti memahami bahasa yang menyertainya. Kosakata yang sama membantu tim Anda tetap selaras, mengurangi miskomunikasi, dan menghindari kesalahan pemesanan.
"Glosarium Manajemen Inventaris" ini menyajikan 50 istilah penting dengan definisi yang jelas dan contoh nyata. Gunakan glosarium ini untuk menetapkan reorder point yang bisa diandalkan, mengungkap carrying cost tersembunyi, dan menjaga kepuasan pelanggan dengan pengiriman yang tepat waktu.
Dengan menguasai 50 istilah ini, Anda akan bisa:
- Mendeteksi masalah lebih awal, sebelum berkembang menjadi stockout atau write-off
- Berdiskusi lebih jelas dengan supplier dan tim Anda
- Menentukan berapa banyak dan kapan harus memesan, berdasarkan data permintaan yang nyata
A β L
1. Analisis ABC
Metode untuk mengklasifikasikan item berdasarkan nilainya: item "A" (bernilai tinggi), item "B" (sedang), item "C" (rendah). Lebih spesifiknya:
- A (20% item yang mewakili 80% nilai)
- B (30% item yang bernilai 15%)
- C (50% item yang bernilai 5%)
Use case: Sebuah retailer elektronik kecil meninjau data penjualan setiap bulan dan memesan item A setiap minggu, item B dua mingguan, dan item C setiap kuartal. Dengan memfokuskan upaya di tempat yang paling penting, mereka berhasil menghemat 25% biaya pemesanan.

2. Aging Report
Laporan yang menunjukkan sudah berapa lama setiap item berada di stok. Laporan ini mencantumkan berapa hari setiap item duduk di rak, dan berguna untuk mengidentifikasi item yang bergerak lambat atau sudah usang.
Use case: Sebuah supplier makanan menandai batch yang lebih dari 60 hari dan menawarkan diskon untuk mengosongkannya sebelum membusuk.
Contoh:
Tyson Grilled Chicken Strips (Frozen) 6Γ22 oz
- Diterima: 10 Mei 2025 | Hari tersimpan: 92 | Cases: 14
- Lot: TY-0510 | Best by: 30 April 2026
- Tindakan: Diskon 10% untuk akun yang perputarannya lambat; bundling dengan sayuran beku.
- Tujuan: Meningkatkan perputaran tanpa mengurangi margin.
3. Backorder
Pesanan yang tidak bisa Anda penuhi langsung karena tidak ada stok di tangan. Ketika Anda tidak bisa memenuhi pesanan dari stok yang ada, pesanan tersebut menjadi backorder hingga item baru tiba.
Use case: Saat sebuah butik fashion kehabisan kaos populer, mereka mengirim email ke pelanggan dengan estimasi tanggal pengiriman (kadang menawarkan hadiah kecil sebagai bentuk permintaan maaf atas keterlambatan).

4. Batch Tracking
Memberikan identifier unik untuk sekelompok item yang diproduksi bersama, sehingga Anda bisa menelusuri masalah kualitas seperti cacat atau penarikan produk hingga ke sumbernya.
Use case: Sebuah brand kosmetik melacak setiap batch lipstik; ketika ada laporan batch yang teksturnya rapuh, mereka bisa langsung melokasi dan mengganti hanya lot tersebut.
5. Bill of Materials (BOM)
Daftar rinci semua komponen yang dibutuhkan untuk merakit produk jadi. BOM sangat berguna untuk produsen dan penjual berbasis kit.
Use case: Sebuah produsen elektronik kecil merakit thermostat pintar. BOM mencantumkan 1 PCB utama, 1 LCD, 1 set housing, 4 sekrup, dan 1 wiring harness sehingga tim pembelian memesan komponen yang tepat dan tim perakitan bisa memverifikasi setiap unit sebelum packing.
6. Bin Location
ID rak atau bin spesifik tempat sebuah item disimpan di gudang atau area penyimpanan Anda. Mengetahui lokasi yang presisi ini bisa mempercepat proses picking dan packing.
Use case: Sebuah pusat e-commerce melabeli hard drive di lorong B, rak 3, bin 14, dan karyawan bisa melakukan picking 40% lebih cepat dari sebelumnya.
7. Carrying Cost
Total biaya menyimpan item, termasuk sewa, asuransi, listrik, kerusakan, dan lain-lain. Dinyatakan sebagai persentase dari nilai inventaris, biasanya berkisar 20β30% dari nilai per tahun.
Contoh: Jika Anda menyimpan barang senilai Rp100.000.000 dan carrying cost-nya 25%, Anda membayar Rp25.000.000 per tahun hanya untuk menyimpannya di rak. π°
8. Consignment Inventory
Stok yang disimpan di lokasi Anda, tapi kepemilikannya tetap di supplier sampai benar-benar terjual. Dengan consignment inventory, Anda bisa mengurangi biaya awal dan risiko.
Use case: Sebuah toko sepeda bisa memajang e-bike mahal tanpa pembayaran di muka; supplier baru menagih saat sepeda terjual.
9. Cycle Count
Penghitungan inventaris parsial yang dilakukan secara rutin untuk memeriksa akurasi tanpa harus menghentikan operasional demi stocktake penuh. Anda menghitung sebagian SKU sesuai jadwal dan memperbaiki selisihnya dengan cepat.
Use case: Sebuah gudang perlengkapan rumah tangga menghitung item bernilai tinggi setiap minggu dan item bernilai rendah setiap bulan untuk mempertahankan akurasi 99% dengan gangguan minimal.
β’ Metode ABC: Item A mingguan, B bulanan, C kuartalan.
β’ Metode Lokasi: Satu lorong atau bay per hari.
β’ Berbasis event: Hitung setelah penerimaan besar, promosi, atau perubahan proses.
10. Days of Inventory on Hand (DOH)
Berapa hari stok saat ini akan bertahan berdasarkan tingkat penjualan yang diharapkan.
Formula: DOH = Unit di tangan Γ· Permintaan harian rata-rata
Contoh: Anda memiliki 600 unit di tangan dan menjual 30 per hari.
DOH = 600 Γ· 30 = 20 hari. Dengan lead time 14 hari dan 3 hari safety, Anda harus berencana memesan ulang saat DOH mendekati 17β20.

11. Demand Forecasting (Peramalan Permintaan)
Memprediksi permintaan item di masa depan berdasarkan riwayat penjualan, musim, dan sinyal pasar. Menggunakan tren ini membantu Anda menghindari stockout dan overstock.
Use case: Sebuah brand baju renang melihat lonjakan di bulan Mei dan Juni. Menggunakan penjualan tahun lalu dan sinyal waitlist, mereka meningkatkan pemesanan di bulan Maret agar siap menghadapi musim puncak tanpa stockout.
12. Dead Stock
Item yang sudah lama tidak terjual dan kecil kemungkinannya akan bergerak. Mereka mengikat uang tunai dan ruang rak, jadi sebaiknya didiskon atau dibundling untuk mengosongkan ruang bagi item yang benar-benar laku.
Use case: Sebuah toko buku menandai buku-buku pelajaran usang sebagai dead stock setelah dua semester, lalu membundling-nya untuk clearance sale.

β’ Tetapkan ambang batas aging (misalnya 120 hari tanpa penjualan).
β’ Jalankan diskon atau bundel yang ditargetkan untuk mengembalikan modal.
β’ Hapus dead stock dari pemesanan ulang.
β’ Ganti dengan varian yang bergerak lebih cepat.
13. Dropshipping
Model pemenuhan pesanan di mana Anda meneruskan pesanan langsung ke supplier, yang akan mengirimkan item langsung ke pelanggan Anda. Anda mencantumkan dan memasarkan produk, mengirim pesanan berbayar ke supplier, lalu membayar harga grosir setelah pelanggan membayar. Anda tidak pernah memegang inventarisnya.
Use case: Sebuah startup dekorasi rumah menguji lini produk baru via dropshipping. Tidak ada risiko inventaris di muka, sehingga mereka bisa mencoba item musiman atau berukuran besar tanpa pembelian dalam jumlah besar.

14. Economic Order Quantity (EOQ)
Jumlah pemesanan ulang ideal yang meminimalkan total biaya pemesanan dan penyimpanan (carrying cost).
Formula: EOQ = β((2 Γ D Γ S) / H), di mana:
- D = permintaan tahunan (unit)
- S = biaya per pesanan (admin, ongkos kirim, penerimaan)
- H = biaya penyimpanan tahunan per unit (storage, risiko keusangan)
Contoh: Jika kalkulator EOQ menunjukkan 500 unit, Anda menghindari memesan 100 unit terlalu sering (biaya tinggi) atau 1.000 unit terlalu jarang (carrying cost tinggi).
15. Fill Rate
Persentase (%) pesanan pelanggan yang bisa Anda penuhi langsung dari inventaris di tangan.
Use case: Sebuah retailer suplemen mengukur fill rate setiap hari; ketika turun di bawah 95%, mereka menambahkan peninjauan reorder point.
16. First-In, First-Out (FIFO)
Anda menjual atau menggunakan item terlama terlebih dahulu, mengurangi pembusukan dan keusangan. FIFO umum di industri makanan dan minuman, kosmetik, kimia, dan item apa pun yang memiliki masa simpan.
Use case: Sebuah toko roti menjual cupcake yang dibuat kemarin sebelum batch hari ini β mengurangi pemborosan dan menjaga kesegaran tetap konsisten.

I β P
17. Inventory Turnover
Rasio yang menunjukkan berapa kali Anda menjual dan mengganti seluruh stok dalam periode tertentu (biasanya setahun).
Formula:
Turnover = Cost of Goods Sold (COGS) Γ· Rata-rata Inventaris
di mana Rata-rata Inventaris = (Inventaris Awal + Inventaris Akhir) Γ· 2
Use case: Sebuah brand fashion dengan turnover 8 berarti telah menjual seluruh koleksinya delapan kali tahun lalu. Ini angka yang sehat untuk barang berbasis tren.
18. Just-in-Case Inventory
Stok ekstra yang Anda simpan untuk mencegah stockout saat ada lonjakan permintaan tak terduga atau keterlambatan pasokan. Anggap saja sebagai "buffer" atau asuransi untuk ketersediaan.
Use case: Sebuah perusahaan mainan memesan 20% ekstra menjelang musim liburan agar tidak kehabisan stok ketika permintaan melebihi perkiraan.
19. Just-in-Time (JIT)
Memesan item hanya saat dibutuhkan untuk meminimalkan biaya penyimpanan. Bekerja paling baik dengan supplier yang andal, lead time pendek, dan permintaan stabil. Biasanya berarti pengiriman yang lebih kecil dan lebih sering, dengan koordinasi erat dengan vendor.
Risiko: Keterlambatan kecil saja bisa menyebabkan stockout.
Use case: Sebuah produsen suku cadang otomotif menerima brake pad setiap hari dari pabrik terdekat, memangkas ruang gudang hingga setengahnya sambil tetap menjaga lini perakitan tetap dipasok.

20. Kanban
Sistem penjadwalan visual, biasanya berupa kartu atau sinyal digital, yang memicu pemesanan ulang saat stok mencapai level tertentu. Membuat proses pemesanan tetap sederhana dan mencegah overstock tanpa perlu peramalan yang rumit.
Use case: Sebuah klinik komunitas menggunakan sistem Kanban dua bin untuk sarung tangan. Ketika bin pertama kosong, staf memindai kartu untuk memesan kembali sebanyak isi satu bin.
21. Kitting
Merakit beberapa item menjadi satu SKU yang bisa dijual untuk menyederhanakan penjualan dan pemenuhan pesanan.
Cara kerja kitting:
- Tentukan kit-nya. Pilih item dan jumlahnya. Tentukan tujuannya (gift set, starter pack, clearance).
- Buat kode kit + daftar komponen. Beri bundel ID unik dan tulis bill of materials singkat dengan setiap komponen dan kuantitasnya.
- Pilih metode pembuatan. Buat kit di awal untuk pengiriman lebih cepat, atau rakit on-demand untuk menghemat ruang.
- Tetapkan harga dan margin. Jumlahkan biaya komponen (termasuk kemasan), pilih margin target, dan tetapkan harga bundel.
- Tentukan kapan stok berkurang. Kurangi stok komponen saat membuat kit (perlakukan sebagai produk jadi) ATAU saat kit terjual (virtual bundle).
- Kemas dan pick. Beri label kit, catat substitusi yang diizinkan, dan tambahkan QC check cepat agar item yang tepat masuk setiap kali.

Use case: Sebuah toko kosmetik membundling lima item menjadi "Makeup Starter Kit" untuk mengosongkan warna yang bergerak lambat sebelum musim berikutnya, menciptakan set yang cocok jadi kado, dan otomatis mengurangi jumlah stok setiap komponen saat kit terjual.
Contoh: Jika lima item totalnya Rp300.000 dan harga bundel Rp450.000, Anda mengosongkan ruang rak sekaligus menjaga sekitar 26% gross margin.
22. Last-In, First-Out (LIFO)
Menggunakan atau menjual stok terbaru lebih dulu. Sering digunakan untuk barang non-perishable atau item yang tidak menua atau membusuk.
Use case: Beberapa toko hardware menggunakan LIFO pada fastener non-perishable agar selalu memindahkan batch berlapis terbaru.
23. Lead Time
Waktu yang dibutuhkan dari saat memesan ke supplier hingga menerima item di gudang Anda. Lead time melacak rata-rata dan variabilitas, serta bisa digunakan untuk menetapkan reorder point.
Use case: Sebuah retailer gadget melihat lead time 14 hari dari luar negeri; mereka menetapkan reorder point setidaknya dua minggu sebelum stok mencapai nol.
24. Lead Time Demand
Jumlah item yang Anda perkirakan akan terjual atau digunakan selama jendela lead time.
Formula:
Lead Time Demand = Permintaan rata-rata per periode Γ Lead time
Use case: Jika Anda menjual 100 unit per minggu dan memiliki lead time dua minggu, lead time demand Anda adalah 200 unit. Reorder point Anda harus mencakup itu, ditambah safety stock.
25. Lot Tracking
Memantau sekelompok item yang dibuat atau diterima bersama untuk mengelola penarikan produk dan pemeriksaan kualitas secara lebih presisi. Mirip dengan batch tracking, ini melacak production run tertentu, tapi sering digunakan di makanan dan farmasi.
Yang perlu dicatat:
β’ Supplier
β’ Tanggal produksi
β’ Kedaluwarsa
β’ Lokasi penyimpanan
Use case: Sebuah produsen vitamin hanya menarik Lot #V2025-07 alih-alih menarik seluruh inventaris dari rak.
26. Min-Max Replenishment
Aturan sederhana untuk pemesanan ulang. Anda menetapkan "Min" (level pemicu) dan "Max" (level target). Ketika stok yang tersedia turun ke Min atau di bawahnya, Anda memesan cukup untuk mengembalikannya ke Max.
- Min β Lead time demand + Safety stock
- Max β Min + Order-cycle demand
Use case: Sebuah toko hardware menggunakan MinβMax untuk produk fasteners dengan permintaan stabil. Staf mengecek level setiap Senin, dan sistem menyarankan pesanan untuk mengisi setiap SKU kembali ke Max. Ini menjaga bin tetap penuh tanpa peramalan harian.
27. Minimum Order Quantity (MOQ)
Jumlah item terkecil yang akan diterima supplier dalam satu pesanan. Mempengaruhi cash flow, penyimpanan, dan seberapa cepat Anda bisa menguji item baru.
Use case: Sebuah printer kaos membutuhkan MOQ 200; Anda merencanakan desain dan kampanye penjualan berdasarkan baseline itu dan menggunakan presale untuk mencapai batch pertama.
28. Overstock
Kelebihan item di luar yang bisa Anda jual secara realistis dalam jangka waktu yang wajar. Ini mengikat modal dan menaikkan carrying cost.
Use case: Setelah perubahan desain, sebuah brand pakaian menemukan tiga palet jaket musim lalu: overstock mengikat Rp30.000.000.

29. Par Level
Jumlah minimum item yang ingin Anda miliki di tangan. Ketika stok turun di bawah angka ini, saatnya pemesanan ulang.
Aturan sederhana: Jumlah pesanan = Par level β Stok di tangan
Use case: Sebuah klinik gigi menetapkan par level mouthwash sebanyak 10 botol; ketika turun jadi sembilan, pesanan otomatis dikirim ke supplier.
30. Perpetual Inventory
Sistem pelacakan real-time yang memperbarui jumlah stok segera setelah setiap transaksi.
Use case: Sebuah apotek menggunakan scanner di kasir agar level stok di kasir depan dan stok belakang selalu cocok secara real-time.
31. Pick-and-Pack
Proses memilih item (picking) dan menyiapkannya untuk pengiriman (packing).
Use case: Sebuah toko buku online mengelompokkan pesanan per lorong, lalu mengirim setiap troli ke stasiun packing dengan slip kemas tercetak. Throughput meningkat dua kali lipat dengan kesalahan yang lebih sedikit.
32. Pick List
Daftar cetak atau digital yang menunjukkan item dan jumlah yang harus dipilih dari stok untuk setiap pesanan.
Yang perlu disertakan:
β’ Nama item
β’ Lokasi bin
β’ Jumlah
β’ Order ID
β’ Waktu jatuh tempo
Use case: Pick list seorang florist menunjukkan 12 mawar, 6 lily, dan 3 pakis untuk setiap rangkaian. Ini mengurangi substitusi, mempercepat perakitan, dan memangkas biaya pembuatan ulang.
33. Procurement
Proses end-to-end dari sourcing, negosiasi, hingga pembelian item Anda.
Use case: Tim procurement sebuah restoran membandingkan tiga supplier ikan berdasarkan harga, kualitas, dan waktu pengiriman sebelum menandatangani kontrak kuartalan.
34. Purchase Order (PO)
Dokumen formal yang dikirim ke supplier yang merinci item, jumlah, harga yang disepakati, dan tanggal pengiriman. Berfungsi sebagai dasar untuk penerimaan dan penagihan.
Use case: Sebuah craft brewery mengeluarkan PO untuk hops untuk mengunci harga dan memesan lot untuk jadwal pembuatan bir bulan depan, melindungi dari fluktuasi pasar. πΊ

Q β Z
35. Radio Frequency Identification (RFID)
Tag nirkabel yang menggunakan gelombang radio untuk melacak item secara otomatis. Tag ini bisa dibaca oleh scanner tanpa line of sight; bagus untuk cycle count cepat dan menemukan item yang salah tempat.
Use case: Sebuah retailer fashion memasang tag RFID di dompet; saat pergantian shift, karyawan bisa memindai seluruh rak dalam hitungan detik alih-alih menghitung satu per satu.
36. Reorder Point
Level stok di mana Anda memicu pesanan baru, berdasarkan lead time dan peramalan permintaan.
Formula:
Reorder Point = Lead time demand + Safety stock
Use case: Sebuah distributor mainan menetapkan reorder point agar drone populer tidak pernah turun di bawah 50 unit. Mereka memperhitungkan dua minggu permintaan ditambah buffer kecil.
37. Safety Stock
Unit ekstra yang disimpan untuk menutupi permintaan tak terduga atau keterlambatan pasokan. Ini adalah buffer Anda terhadap stockout.
Use case: Sebuah toko gadget menyimpan 10% safety stock pada smart speaker andalan menjelang peluncuran produk besar.

38. Sales Order (SO)
Permintaan dari pelanggan yang memulai proses picking, packing, dan pengiriman.
Use case: Saat Amazon mencatat pesanan mainan, ia langsung mencetak sales order untuk tim gudang.
39. Shrinkage
Kehilangan item akibat pencurian, kerusakan, atau kesalahan administrasi, ditampilkan sebagai persentase dari total stok.
Use case: Sebuah toko grosir premium mengaudit setiap bulan dan menemukan shrinkage 1,5%. Mereka memasang kamera dan melatih ulang staf, hingga memangkasnya menjadi 0,8%.
40. SKU (Stock Keeping Unit)
Kode unik (biasanya alphanumeric) yang diberikan untuk setiap konfigurasi item berbeda demi pelacakan.
SKU vs. Barcode:
- SKU = identifier internal Anda.
- Barcode (seperti UPC/EAN) = kode yang bisa dibaca mesin, sering dibagi antar retailer untuk item yang sama.
Anda memindai barcode, tapi mengelola dan melaporkan berdasarkan SKU.
Use case: Sebuah toko furniture menggunakan SKU terpisah untuk ukuran, warna, dan gaya. Dengan begitu, "Gray Armchair" tidak tertukar dengan "Black Armchair."

41. Stock Audit
Tinjauan formal terhadap catatan inventaris dan penghitungan fisik.
Use case: Sebuah retailer jam tangan mewah menutup satu sore setiap kuartal untuk menghitung setiap etalase dan brankas back-office.

42. Stock Valuation
Metode yang Anda gunakan untuk menghitung nilai item di tangan (FIFO, LIFO, weighted average, dan lain-lain).
Use case: Sebuah butik menggunakan weighted average cost agar fluktuasi harga bahan baku tidak terlalu memengaruhi laporan keuntungannya.
43. Stockout
Saat Anda kehabisan stok untuk suatu item dan tidak bisa memenuhi pesanan.
Use case: Sebuah toko perlengkapan outdoor kehabisan tenda di pertengahan Juli dan kehilangan penjualan Rp5.000.000 plus loyalitas pelanggan tetap.
44. Supply Chain
Jaringan supplier, produsen, transporter, dan gudang yang memindahkan item dari bahan baku ke pelanggan Anda.
Yang termasuk:
Bahan baku β Supplier komponen β Produsen/Perakit β Pusat distribusi regional β Toko/Online β Pelanggan β Retur
Use case: IKEA mendesain item agar bisa di-flat-pack, yang memangkas volume pengiriman dan ruang gudang. Mereka menggunakan hubungan supplier jangka panjang dan pusat distribusi regional agar toko bisa restock dengan cepat sambil menjaga biaya transportasi tetap rendah.
45. Throughput
Tingkat kecepatan item bergerak melalui sistem Anda β dari penerimaan hingga pengiriman. Sederhananya, berapa banyak unit yang Anda selesaikan per periode waktu.
Formula
Throughput = Unit yang selesai Γ· Waktu (misalnya pesanan per jam)
Use case: Setelah mengatur ulang lantai gudangnya, operator snack subscription box meningkatkan throughput dari 1.000 menjadi 1.600 box per hari.
46. Vendor-Managed Inventory (VMI)
Pengaturan di mana supplier Anda memantau level stok Anda dan mengisi ulang item sesuai kebutuhan.
- Kelebihan: Stockout yang lebih sedikit pada item pokok, waktu lebih sedikit untuk membuat PO, dan keahlian vendor tentang mix produk, penempatan, dan musiman
- Kekurangan: Kontrol langsung yang lebih sedikit atas jumlah dan waktu pemesanan, risiko overstock
Use case: Sebuah toko grosir kecil membiarkan supplier susu mengisi susu setiap hari, sehingga staf bisa fokus pada pelayanan pelanggan.
Terkait: Vendor Managed Inventory
47. Warehouse Management System (WMS)
Software yang mengontrol dan mengoptimalkan penugasan bin, rute picking, dan lokasi inventaris.
Use case: Setelah memasang WMS, sebuah distributor suku cadang memangkas kesalahan picking sebesar 40% dan mengurangi waktu perjalanan antar lorong sebesar 30%.

48. Weighted Average Cost (WAC)
Metode valuasi inventaris yang merata-ratakan biaya semua unit yang tersedia dalam suatu periode. Pendekatan ini menghaluskan fluktuasi harga antar pembelian.
Use case: Sebuah supplier kimia menggunakan weighted average ketika harga berfluktuasi setiap hari sehingga invoice tetap stabil.
49. Work-in-Process (WIP)
Item yang sedang dalam proses produksi atau perakitan, belum siap dijual.
Use case: Seorang perakit elektronik melacak WIP pada papan sirkuit untuk menyeimbangkan beban kerja dan mencegah bottleneck.
50. Zero Inventory
Pendekatan JIT ekstrem di mana Anda tidak menyimpan item apa pun di tangan, mengandalkan dropshipping atau pengisian ulang instan. Anda fokus pada marketing dan alur pesanan; mitra yang membuat dan mengirim.
Kapan ini bekerja:
- Item kustom atau made-to-order (misalnya pakaian print-on-demand)
- Katalog besar atau long-tail di mana menyimpan stok tidak praktis
- Pengujian awal item baru ketika modal masih ketat
Use case: Sebuah penjual mug print kustom menggunakan zero inventory. Setiap pesanan dicetak on-demand di fasilitas supplier.
Cara Menggunakan Glosarium Ini
- Bagikan ke tim Anda agar semua orang berbicara bahasa yang sama.
- Bookmark istilah penting yang sesuai dengan model bisnis Anda (misalnya JIT vs. just-in-case).
- Tinjau setiap kuartal untuk mengikuti perkembangan strategi dan alat baru.
Anda juga bisa menambahkan glosarium ini ke proses onboarding agar karyawan baru bisa beradaptasi lebih cepat.
Dengan definisi-definisi ini, Anda bisa membuat keputusan yang lebih tepat tentang cara memesan, menyimpan, dan menjual item Anda. Jika ada istilah yang ingin kami tambahkan, beri tahu kami!
π§ Hubungi kami: support@boxhero.io







