Praktik Terbaik SKU: Penamaan, Kesalahan Umum, dan Cara Merapikannya

Praktik Terbaik SKU: Penamaan, Kesalahan Umum, dan Cara Merapikannya

SKU adalah kode produk yang dibuat sendiri oleh sebuah bisnis.

Berbeda dengan UPC yang diterbitkan oleh GS1, atau ASIN Amazon yang ditetapkan oleh Amazon, stock keeping unit tidak memiliki standar global. Anda bisa menyusun SKU sesuka Anda (format apa pun, panjang berapa pun) agar sesuai dengan item, model bisnis, atau industri Anda.

Fleksibilitas itu terdengar bagus secara teori, tapi dalam praktiknya justru bisa dengan mudah menghasilkan SKU yang berantakan, terutama saat katalog Anda makin bertambah.

Artikel ini membahas cara menyusun kode SKU dengan benar, berbagai cara umum yang membuat data SKU rusak di spreadsheet dan integrasi, serta kapan waktunya memensiunkan produk yang lambat terjual dari katalog Anda sepenuhnya.


UPC vs. SKU: Apa Bedanya?

Sebelum masuk ke aturan penamaan, mari kita lihat perbedaan SKU dan UPC. Kedua istilah ini sering disebut bersamaan, tapi keduanya punya fungsi yang sangat berbeda dalam ritel:

  • Universal Product Code (UPC): UPC adalah angka 12 digit yang bersifat global dan terstandarisasi, diterbitkan secara eksternal oleh GS1, yang artinya kodenya tetap sama siapa pun yang menjualnya. Jika sebuah produsen mengirim sekotak sepatu ke beberapa peritel berbeda, sepatu itu tetap punya UPC yang sama persis di mana pun.
  • Stock Keeping Unit (SKU): SKU adalah kode alfanumerik unik yang dibuat secara internal oleh bisnis Anda. Kode ini sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan pelacakan Anda, seperti warna, ukuran, atau lokasi gudang. Sepatu yang sama persis bisa saja punya SKU yang benar-benar berbeda di dua toko yang berbeda.
Bagan perbandingan SKU vs UPC yang menunjukkan perbedaan standar, tipe, format, dan penggunaannya

💡
Aturan Emasnya: UPC digunakan di mana pun sebuah produk dijual. SKU digunakan di dalam bisnis Anda sendiri untuk melacak dan mengelola inventaris.


Kode yang Mudah Dibaca vs. Kode Acak

Ada dua cara umum untuk menyusun SKU.

1. SKU yang Mudah Dibaca (Readable)

Kadang disebut SKU intelligent atau meaningful, SKU yang mudah dibaca menyematkan informasi produk langsung ke dalam kodenya. Sebagai contoh, TSH-BLK-M terbaca dalam tiga bagian: jenis produk (T-SHIRT), warna (BLACK), dan ukuran (MEDIUM). Anda bisa langsung memahami apa yang diwakilinya begitu melihatnya.

2. SKU Acak (Random)

Sebaliknya, SKU acak, yang juga dikenal sebagai kode sekuensial, tidak membawa makna apa pun dengan sendirinya. Kode seperti 100482 baru menjadi berguna ketika dicari di sistem manajemen inventaris Anda, yang menghubungkan kode tersebut dengan catatan produknya.

⚠️
Kelemahan SKU yang mudah dibaca adalah detail item bisa berubah seiring waktu. Supplier berganti, material diperbarui, kemasan direvisi, dan kodenya pun mulai keliru menggambarkan produk.

Selain itu, tim sering menafsirkan singkatan secara berbeda, yang bisa menyebabkan duplikat atau nyaris-duplikat untuk item yang sama. Sebagai contoh, dua departemen yang mendaftarkan varian tas ransel yang sama bisa menafsirkan warna "charcoal" dan ukuran "medium" secara berbeda:

BPK-CHAR-MD — digunakan oleh tim marketing
BPK-CHRL-MED — digunakan oleh tim gudang

Titik Ideal: Pendekatan Hybrid

Sebagian besar sistem inventaris memilih jalan tengah. Mereka hanya menyandikan atribut tingkat tinggi yang stabil dan jarang berubah serta membantu pengenalan (seperti kategori atau brand), sambil menyimpan set atribut lengkapnya di dalam database.

Panduan dari Square menyarankan untuk menempatkan kategori tingkat tertinggi di bagian depan agar staf bisa membaca awal kode dengan sekilas, dan menjaga strukturnya tetap identik di semua item. Informasi yang kemungkinan berubah (seperti harga, supplier, atau musim) sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam SKU itu sendiri.

Halaman item BoxHero untuk Turtleneck Sweater yang menampilkan SKU "UNQ-TOP-CM-001" yang terbagi menjadi brand, kategori, dan material.
UNQ-TOP-CM-001 terdiri dari: Brand (UNQ=Uniqlo), Kategori (TOP=Top), Material (CM=Cashmere).


Lima Aturan Penamaan untuk SKU yang Rapi dan Konsisten

Beberapa pilihan format menentukan apakah data SKU tetap utuh saat berpindah antar spreadsheet, printer barcode, dan kanal penjualan.

1) Mulai dengan Huruf

Beberapa spreadsheet dan tools inventaris menghilangkan angka nol di depan, sehingga 012345 terbaca sebagai 12345. Dalam beberapa kasus, angka nol di depan bahkan bisa terbaca sebagai jumlah nol. Memulai dengan huruf menghindari kedua masalah ini.

2) Hindari Karakter yang Mirip

Huruf O dan angka 0, atau huruf kecil l dan angka 1, mudah salah ketik saat memasukkan data dan mudah salah baca pada label yang tercetak.

3) Gunakan Hanya Huruf dan Angka

Spasi dan karakter khusus seperti garis miring, ampersand, dan titik bisa merusak impor CSV, pencetakan barcode, dan integrasi. Sebagai contoh, garis miring (/) bisa terbaca sebagai tanggal, dan simbol @ sebagai alamat email.

4) Jaga SKU dalam Rentang yang Konsisten

Sekitar 8 hingga 12 karakter cocok untuk sebagian besar kasus. Panjang itu cukup untuk menjaga keunikan dan menyisakan ruang untuk lini produk baru, tapi cukup pendek untuk dipindai dan muat di label (sebagai referensi, ASIN produk Amazon terdiri dari sepuluh karakter).

5) Satu SKU, Satu Varian

Satu stock keeping unit harus selalu mewakili satu varian produk. Jika dua item berbagi SKU yang sama, stok keduanya akan tergabung, yang bisa menyembunyikan kehabisan stok dan menimbulkan masalah pelaporan.

💡
Yang tidak boleh dimasukkan ke dalam SKU:
Hindari apa pun yang bisa berubah seiring waktu, seperti harga, promosi, musim, atau detail supplier. Jangan gunakan SKU vendor sebagai kode internal Anda sendiri, dan jangan pernah memakai ulang SKU lama untuk produk baru. Setiap SKU harus tetap terikat pada satu item beserta riwayatnya.


Kapan Harus Menghapus Produk dari Katalog Anda

Menambahkan produk tidak pernah sekadar "menambah SKU". Setiap SKU baru menambah pekerjaan: sesuatu yang harus dilacak, diramalkan, disimpan, dan dihitung.

Cara praktis untuk meninjau SKU adalah dengan melihat dua hal: volume penjualan dari waktu ke waktu dan kontribusi margin (harga dikurangi biaya, dikalikan jumlah unit terjual). Item yang nilainya rendah pada keduanya menjadi kandidat untuk dihapus.

Namun, penjualan yang rendah saja bukan alasan yang cukup untuk memangkas suatu produk. Beberapa produk bergerak lambat tapi tetap memainkan peran penting, misalnya mendukung sebuah lini produk, melayani segmen pelanggan khusus, atau melengkapi sebuah set. Sebelum menghapus apa pun, pahami dulu peran yang dimainkannya dalam katalog Anda.

Untuk mencegah jumlah SKU kembali membengkak, Anda bisa mengikuti aturan sederhana:

"Satu masuk, satu keluar."
(One in, one out.)
Seorang pramuniaga tersenyum menyerahkan tas belanja hijau kepada pelanggan di kasir sebuah butik pakaian, dengan papan "SALE" di rak terdekat.

Kesalahan inventaris itu mahal. Menurut IHL Group, biaya global akibat kehabisan stok dan kelebihan stok mencapai $1,73 triliun pada tahun 2025, dengan kehabisan stok saja menyumbang hampir $1,2 triliun. Presiden IHL, Greg Buzek, menyebut kesenjangan antara manajemen inventaris berbasis data dan cara tradisional sebagai "isu eksistensial" bagi para peritel.

Set SKU yang lebih kecil dan terkelola dengan baik lebih mudah dilacak secara akurat, dan itulah yang mencegah baik rak kosong maupun dead stock.


Bagaimana AI Mengubah Manajemen SKU

Di tahun 2026, tools inventaris berbasis AI semakin banyak digunakan oleh brand untuk menganalisis performa SKU, menandai item yang bergerak lambat, dan menjawab pertanyaan seputar katalog dalam bahasa sehari-hari.

Coba tanyakan sesuatu seperti "tunjukkan item yang berkinerja rendah berdasarkan SKU" dan Anda akan mendapat daftar berperingkat yang bisa diekspor (tanpa perlu SQL atau rumus). Jadi jauh lebih mudah untuk mengidentifikasi produk yang berada di bawah ambang penjualan atau margin Anda.

AI Assistant BoxHero menyusun query SQL dengan tabel hasil yang memeringkat item berdasarkan SKU.

Tools seperti ini bergantung pada satu hal: data SKU yang bersih dan konsisten. Struktur kode yang terpadu adalah syarat dasar sebelum algoritma apa pun bisa memberikan jawaban yang berguna. Jika kode SKU dan struktur produk di baliknya berantakan, bahkan AI paling canggih pun akan menghasilkan hasil yang tidak bisa diandalkan.

"Sampah masuk, sampah keluar."
(Garbage in, garbage out.)

Itulah kenapa membenahi dasar-dasar struktur katalog Anda jauh lebih penting daripada canggihnya tools AI yang Anda pakai. Anda tidak bisa mengotomatiskan sistem yang belum tertata rapi.


Mengelola SKU di BoxHero

Layar "Item Baru" BoxHero dengan kolom SKU ("LEV-JN-BLU-014") dan kolom barcode, masing-masing dengan tombol "Generate" untuk membuat kode secara otomatis.

Jika Anda ingin data inventaris yang bersih dan siap diolah AI, BoxHero menyimpan kolom SKU di setiap item. Anda bisa memasukkan kode Anda sendiri atau membiarkan sistem membuatnya secara otomatis, dan SKU juga bisa ditambahkan atau diperbarui secara massal lewat unggahan Excel.

Setiap catatan item menyimpan SKU, barcode, harga pokok, harga jual, dan stok per lokasi secara bersamaan, sehingga inventaris Anda tetap tertata seiring bertumbuhnya katalog.

Siap menerapkan sistem SKU yang lebih baik? Mulai kelola inventaris Anda dengan BoxHero. Coba semua fitur gratis selama 30 hari, tanpa perlu kartu kredit.

Mulai kelola inventaris dengan BoxHeroCoba BoxHero gratis selama 30 hari.


ARTIKEL TERKAIT

AI untuk Manajemen Inventaris: Contoh Penggunaan untuk Bisnis Kecil
Berhenti buang waktu untuk laporan inventaris manual. Inilah cara AI bisa mengubah data Anda jadi insight tajam tanpa perlu keahlian teknis.
4 Aplikasi Inventaris Ringan untuk Tim Kecil
Kelola stok lebih mudah dengan aplikasi inventaris ringan. Kami bandingkan Sortly, BoxHero, Zoho, dan inFlow untuk membantu kamu memilih yang tepat.
Punya Banyak Produk? Mulailah dengan ABC Inventory Analysis
Bingung produk mana yang harus diprioritaskan? ABC Inventory Analysis adalah jawabannya. Pelajari cara klasifikasi item untuk profit maksimal.